Selasa, 02 Januari 2018

Kelestarian Budaya Suku Sasak Di Lombok Tengah


Rumah Tradisional Suku Sasak di Desa Sade


Dusun Sade merupakan dusun yang berpemukimam penduduk asli sasak yang memiliki rumah tradisional yang masih asli. Dusun Sade tepatnya berada di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Rumah-rumah penduduk dibangun dari konstruksi bambu dengan atap dari daun alang-alang dan bentuk rumah yang sangat unik. Penghuninya berpencaharian sebagai petani. Disamping arsitektur rumah, sistem sosial dan kehidupan keseharian mereka masih sangat kental dengan tradisi masyarakat Sasak tempo dulu.
Rumah tradisional di Desa Sade merupakan tempat wisata yang di sebut sebagai Desa Wisata di NTB. Hal tersebut dikarenakan Desa Sade merupakan satu satunya desa di Pulau Lombok yang masih mempertahankan adat rumah suku Sasak zaman dahulu. Selain itu, mereka juga sampai sekarang masih memegang teguh adat tradisi. Bahkan, rumah adat khas Sasak juga masih terawat keasliannya hingga saat ini, terbukti dengan anggota keluarga yang menikah dan tidak mau membuat rumah seperti rumah khas suku Sasak maka dia disuruh untuk membuat rumah di luar pemukiman Desa Sade.
Kebudayaan suku Sasak terlihat dari rumah adat di Desa Sade, hal tersebut di yakini oleh masyarakat suku Sasak bahwa rumah memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia untuk bisa bertahan hidup. Rumah adat suku Sasak jika diperhatikan, maka dibangun berdasarkan nilai estetika dan kearifan lokal. Orang sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang menjadi tempat tinggal dan juga tempat ritual adat dan ritual keagamaan. Rumah adat suku Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu. Lantai dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Cara membuat lantai seperti itu sudah diwarisi sejak nenek moyang mereka.
Bahan bangunan seperti kayu dan bambu didapatkan dari lingkungan sekitar. Untuk menyambung bagian-bagian kayu, mereka menggunakan paku dari bambu. Rumah suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, tidak memiliki jendela.
Dalam masyarakat Sasak, rumah memiliki dimensi kesakralan dan keduniawian. Rumah adat Sasak selain sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat ritual sakral sebagai ranah keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang, penunggu rumah dan sebagainya.
Pembangunan rumah adat suku sasak memiliki nilai-nilai kearifan lokal. Hal tersebut tergambar dari atap rumah tradisional Sasak didesain sangat rendah dengan pintu berukuran kecil, bertujuan agar tamu yang datang harus merunduk. Sikap merunduk merupakan sikap saling hormat menghormati dan saling menghargai antara tamu dengan tuan rumah.
Arah dan ukuran yang sama rumah adat suku Sasak menunjukkan bahwa masyarakat hidup harmonis. Sedangkan undak-undakan (tangga) tingkat tiga mempunyai pesan bahwa tingkat ketakwaan ilmu pengetahuan dan kekayaan tiap manusia tidak akan sama. Diharapkan semua manusia menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, karena semuanya merupakan rahmat Tuhan.
Jadi, rumah merupakan sesuatu wujud pemikiran nyata seorang individu atau kelompok dalam memperkuat hubungan dengan sesama manusia (komunitas atau masyarakat), alam dan dengan Tuhan (keyakinan), seperti halnya konsep yang ada pada pembangunan rumah adat masyarakat Sasak. 





Songket: Kain Tenun Khas Desa Sade


Desa Sade memiliki keunikan karena selain rumah tradisionalnya Desa Sade juga memiliki hasil tenunan yang sangat indah. Tenun songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan dengan hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya. Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi.

Apabila kita berkunjung ke Desa Sade maka kita akan melihat wanita yang sedang menenun songket di dampingi dengan alat tenun tradisional. Hal tersebut dilakukan dengan teknik tradisional sederhana yang masih dilakukan oleh pengrajin, yakni mulai dari mengolah benang (menggunakan pemberat yang diputar-putar dengan jari-jari tangan, pemberat tersebut berbentuk seperti gasing terbuat dari kayu), hingga menjadi selembar kain yang berwarna warni. Pengunjung yang berminat pun dapat turut serta mencoba menenun seperti perempuan-perempuan sasak itu.
Kain Tenun Desa Sade ini dipakai sebagai bagian dari pakaian tradisional suku Sasak yang bernama Baju Lambung (baju wanita), baju adat khas Lombok dengan motif hitam polos dengan variasi bawahan yang beragam, biasanya berbentuk selendang, ikat pinggang atau aksesoris lainnya. Sedangkan untuk yang pria biasanya menggunakan songket sebagai bawahan (pasangan baju adat Tegodek Nongkeq) yang diatur sedemikian rupa sehingga indah dipandang.
Songket Desa Sade  rata-rata dikerjakan di rumah. Hampir setiap rumah memiliki alat tenunnya sendiri. Namun, profesi penenun hanya dilakoni oleh kaum perempuannya saja, sedangkan para pria bekerja sebagai petani di sawah. Ada tradisi unik terkait songket ini, kaum perempuan yang ingin menikah diwajibkan untuk memberikan kain tenun buatannya sendiri kepada pasangan. Apabila belum mampu membuat tenun songket, maka perempuan tersebut belum boleh menikah. Namun, bila nekat ingin menikah juga, maka perempuan tersebut akan dikenakan denda. Denda dapat berupa uang maupun hasil panen padi.




Panorama Pantai Kuta Lombok Tengah

Pantai ini berada di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Awalnya Pantai ini biasa-biasa saja, namun setelah banyak pembangunan hotel-hotel kemudian pantai ini menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi. Anda bisa melihat banyak bukit berjajar di sepanjang pantai dan salah satu yang terkenal adalah bukit Mandalika. Nama ini diambil dari cerita kuno  masyarakat setempat, tentang seorang putri bernama Mandalika. Putri Mandalika akhirnya melompat ke laut dari bukit tersebut, karena untuk menghindari pertumpahan darah dan peperangan yang akan dilakukan oleh para pangeran. Bukit tersebut menjadi tempat yang paling tepat untuk menikmati pemandangan Kuta dari ketinggian, maka anda akan melihat pemandangan Pantai Kuta yang terbentang indah, dengan air lautnya yang bening. Bahkan Anda juga bisa melihat gugusan terumbu karangnya.
Pantai Kuta memiliki pemandangan alam yang sangat luar biasa indahnya. Terdapat warna hijau yang lebat dari perbukitan di sekeliling pantai dilengkapi dengan warna biru laut yang sangat menawan, serta garis tengah pantai dengan pasir putih yang membuat panorama alam semakin menawan.
Pantai ini sangat menarik karena di sekitar pantai merupakan tempat tinggal penduduk asli Pulau Lombok yaitu suku Sasak. Sebagian besar mereka adalah seorang penenun atau pengrajin tenun yang menghasilkan banyak kain tenun indah khas suku sasak Lombok. Kain tenun dan songket Sasak ini bisa menjadi salah satu oleh-oleh anda dari Pantai Kuta Lombok Tengah. Ada juga oleh-oleh lain seperti hiasan dinding atau pernak-pernik dan gantungan kunci serta kaos Lombok.

12 komentar: