Senin, 01 Januari 2018

PIAGAM GUMI SASAK: SIMBOL KEBANGKITAN BUDAYA SUKU SASAK






Pada tanggal 26 Desember 2015 merupakan sejarah baru bagi suku di NTB, karena pada saat itu para tokoh masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh adat, tokoh budaya, tokoh sastrawn berkumpul di Musium NTB. Mereka berkumpul karena memiliki tujuan yang sama yakni menjunjung tinngi kebudayaan daerah. Pada saat itu, yang berani mengambil sikap adalah suku sasak, maka dengan kegigihan dan kekuatan tekat yang mulia dari masyarakat suku sasak, khususnya tokoh” masyarakat sasak, maka mereka mencetuskan pernyataan sikap yang dikenal dengan Piagam Gumi Sasak. Piagam Gumi Sasak dibacakan oleh seorang doktor yang merupakan dosen Bahasa Inggris Universitas Mataram yaitu Dr. M. Fajri didampingi oleh sastrawan yang cukup terkenal yaitu Murahim, M.Pd, beliau bertugas membawakan Piagam Gumi Sasak dan menyerahkannya kepada pak Fajrin.
Pada saat membacakan Piagam Gumi Sasak, Dr. Fajrin dengan suaranya yang agak serak membacakan dengan ikhlas, tegak, dan penuh rasa hormat. Dan pada saat dibacakan Piagam Gumi Sasak, para tokoh masyarakat tersebut menangis seakan meratapi bahwa sebagai masayarakat gumi Sasak memiliki tanggungjawabnya untuk membela dan menjunjung tinggi kebudayaan suku Sasak. Dan mulai saat itu masyarakat sasak secara independen dan tanpa bantuan pemerintah manapun menjunjung tinggi pernyataan tentang Piagam Gumi Sasak, sebagai pernyataan untuk seluruh masyarakat sasak agar membela dan menjunjung tinggi kebudayaan di bumi sasak ini.
Dengan dicetuskannya Piagam Gumi Sasak diharapkan masyarakat sasak membela dan mempertahankan kebudayaan sasak dengan gigih dan penuh keberanian. Selain itu, dengan dicetuskannya piagam gumi sasak, artinya mereka sudah mengetahui jati dirinya yang sebelumnya mereka belum mengetahui jati dirinya sendiri sebagai akar kehidupan budaya suku sasak.. Maka mulai pada saat itu mereka mengambil sikap dan sadar bahwa dia adalah tunas rusuk suku sasaak yang akan berjuang mempertahankan suku dan kebudayaan sasak ini.
Maka inilah saatnyaa masyaraakat sasak memiliki jati dirinya sendiri yang berdaulat dan penuh kehormatan sebagai daerah yang makmur dengan kebudayaannya. Selain itu, dengan dicetuskannya Piagam Bumi Sasak membuat masyarakat suku sasak yang dulunya saling serang dan saling menjatuhkan satu sama lain, pada saat piagam gumi sasak dicetuskan maka mereka mulai sadar dan saling berpelukan. Kenapa ini menjadi penting karena ini merupakan gerakan kebudayaan yang bisa diikuti oleh daerah” lain, minsalnya dari jawa aceh bali dsb. Dengan perkembangan zaman yang semakin maju maka kebudayaan sasak semakin kendor bahkan saat ini di kucilkan dan diklaim yang tidak baik, maka dari itu marilah kita mempertahankan kebudayaan kita agar suku sasak ini memiliki martabat yang tinggi sebagai masyarakat yang berbudaya di mata masyarakat nasional maupun internasional.

PIAGAM GUMI SASAK

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui symbol-symbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Symbol-simbol yang diletakkan itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai  oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan , dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengetahuan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingg saat ini, melalui pencitraan budaya  dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialism modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa  lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai  bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut :
Pertama :
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan  dan kehormatan budaya Sasak
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Repuplik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.

Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal 1437/H
26 Desember 2015

Ditandatangani bersama kami,
Drs. Lalu Azhar
Drs. Haji Lalu Mujtahid
Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
TGH. Ahyar Abduh
Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph. D
Dr. Muhammad Fajri, M.A
Dr. Jamaludin, M. Ag
Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum
Dr. H. Sudiman M. Pd
Dr. H. L., Agus Fathurraman
Mundzirin
L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.


14 komentar: